RSS

Tutorial mendapatkan Fat Drum Sound dengan Parallel Compression

Parallel Compression, yang juga dikenal sebagai New York Compression yang namanya diambil dari tempat asal teknik kompresi tersebut dipopulerkan, adalah teknik memproses dua track yang sama persis dengan kompresi yang berbeda untuk mendapatkan sound dengan karakteristik kompresi tertentu. Parallel compression memungkin kita untuk mendapatkan benefit dari cara kompresi tertentu tanpa menimbulkan over compression.

Compressor mengangkat level yang lemah atau mereduksi level yang terlalu kuat sehingga dinamika suatu sinyal audio menjadi stabil. Proses ini cenderung memberikan kesan gemuk (fat) pada bunyi, which can add a lot of character. Tapi efek fat yang kita inginkan baru terasa dengan heavy compression, dimana over compression membunuh dinamika dari performansi player. Parallel compression seringkali menjadi teknik kompresi yang lazim digunakan untuk mengkompromikan hal tersebut.

Abstraksi parallel compression yang telah sedikit saya jelaskan mungkin masih belum memberikan gambaran secara jelas bagaimana parallel compression bekerja, bagaimana melakukannya, dan bagaimana hasilnya. Agar pembahasan kita jelas dan terarah, maka saya fokuskan ruang lingkup pembahasan kita kali ini pada parallel compressionn pada drums.

Adakalanya kita sudah mendapatkan sound drum yang cukup mumpuni but we still want to fatten it up a bit and make it punchier a bit, namun bagaimana pun kita melakukan EQ-ing dan compressing baik pada individual track maupun drumbuss tidak menghasilkan sound yang kita inginkan. Wonder how to solve it?


  1. Buat satu Group Channel dan routing-kan semua elemen drum (kick, snare, toms, overhead, dll) ke group channel tersebut. Untuk mempermudah, kita namakan group channel tersebut dengan drum buss atau group drum atau sesuka kamu. Sebagai audio sample, saya mempunyai drumbuss seperti berikut:


    link : http://soundcloud.com/distorsi/tutorial-mendapatkan-fat-drum

  2. Buat satu Group Channel lagi dan send Drumbuss yang sudah dibuat ke group channel tersebut. Untuk mempermudah, kita namakan group channel tersebut dengan paracomp atau parallel compressor atau sesuka pacar anda.

  3. Insert compressor dengan setting gila-gilan pada Paracomp. Ratio minimal 4:1, a lottagain reduction, attack dan release secepat mungkin hingga suaranya sangat dull dan breathing, pelan-pelan perlambat attack dan release hingga dull dan breathing nya hilang. Di bawah ini adalah setting yang saya gunakan pada audio sample, but don’t copy my setting exactly! Jadikan guideline pada artikel ini agar kamu bisa menggali lebih jauh. 



    Sehingga kita mendapatkan sound seperti berikut
    link : http://soundcloud.com/distorsi/tutorial-mendapatkan-fat

    Now you’re hearing that fat, punchy, and powerful drum tones, but it’s heavily overcompressed!

  4. Drop Fader Paracomp mentok kebawah hingga tidak ada suara dari group channel tersebut. Play lagunya sehingga kamu hanya mendengar drumbuss, pelan-pelan naikan fader paracomp hingga drum terasa sedikit “menggemuk” but don’t overdo it. Perpaduan level antara drumbuss dan paracomp sangatlah krusial. Level paracomp terlalu lemah dan kamu tidak mendapat impact dari parallel compression dengan maksimal, level paracomp terlalu keras and you’re squeezing the drums too much. Pada audio sample yang saya buat, Drumbuss + paracomp menghasilkan bunyi seperti berikut ini


    link : http://soundcloud.com/distorsi/tutorial-mendapatkan-fat-1

Sekian pertunjukkan kecil pada artikel ini! By the way, tidak hanya satu cara untuk melakukan parallel compression pada drums seperti yang telah saya tunjukkan pada artikel ini. Sebagai contoh, ada yang hanya me-routing kick, snare, dan toms ke group channel yang dikompres gila-gilaan, ada yang menggunakan 2 atau lebih group channel paracomp, ada yang mem-boost 100 Hz dan 10kHz pada Paracomp untuk memperjelas definisi kick dan snare, dan banyak ide kreatif lainnya. Jangan sampai artikel singkat ini menghalangi kretivitasmu!
Read More

Mengetahui apa itu limiter beserta fungsinya

Seperti halnya efek Compressor, efek Limiter juga bekerja memproses sinyal audio dan berfungsi mengurangi rentang dinamis audio signal. Compressor dan Limiter juga memiliki interface dan knob-knob yang serupa, seperti Treshold, Ratio, Input, Output, Gain, Attack dan Release.

Limiter juga masih termasuk dalam kategori Compressor, Definisi sederhana dari compressor dan limiter menurut Fry adalah: Basically what these do is keep an eye (or should that be ear?) on signal levels, stopping them from getting any louder than the level you set (the Threshold). A compressor puts a gentle ?squeeze? on excess level, whereas a limiter hits it on the head with a hammer.

Fungsi limiter seperti namanya, yaitu me-limit/membatasi signal audio, biasanya digunakan untuk membuat output yang konstan, sinyal input akan dibatasi dengan threshold dan output akan dibesarkan sesuai kebutuhan. Compressor juga dapat bertindak sebagai Limiter ketika rasio kompresi kompresor melebihi 10:1.



Merujuk kepada diagram diatas, sinyal yang melebihi threshold dikurangi hingga ke tingkat threshold sehingga sinyal tidak pernah melewati limit. Alat ini terkadang digunakan untuk melindungi peralatan dari sinyal tajam yang bersifat merusak. Namun, solusi ini mengakibatkan distorsi berat karena kerja limiter berlaku seperti penjenuhan.

Seperti pada artikel Tentang Compressor dan Fungsinya, berikut fungsi parameter-parameter yang ada pada Limiter:

Threshold
Ambang batas compressor mulai berkerja atau aktif. Contoh: jika compressor disetting thresholdnya pada angka 0 artinya si compressor akan aktif atau belertja disaat sinyal menyentuh angka 0dB, tapi jika sinyal tidak menyentuh angka 0 berartis si compressor belum bekerja.

Ratio
Mengkuantifikasi reduksi pada amplitudo sinyal diatas ambang batas, atau perbandingan sinyal in dan out.
  • 1:1 tidak ada kompresi, sinyal output sama dengan input
  • 2:1 sinyal diatas ambang batas dikurangi setengah. Jika sinyal melebihi batas sebesar 10 dB, nilainya tereduksi menjadi 5 dB.
  • Nilai lain termasuk 3:1, 4:1, dst. Untuk nilai rasio lebih tinggi dari 10:1, kompresor bertindak seperti limiter.

Attack time
Waktu yang dibutuhkan sebelum sinyal tercompress. Attack time ini diukur menggunakan milisecond (ms). Contoh: jika attack time disetting pada angka 0ms berarti compressor akan langsung bekerja, karena tidak ada tenggang waktu sebelum sinyal tercompres, maka soundnya akan terdengar tumpul. Sebaiknya setting attack time lebih lambat agar sinyal tetap memiliki attack yang bagus atau nendang.

Release Time
Waktu yang dibutuhkan compressor untuk kembali ke keadaan tidak kompresi, tujuannya adalah memperhalus aksi compressor. Hitungan release sama seperti attack, yaitu meggunakan ms (milisecond). pengaturan release time yang salah kadang membuat audio menjadi pumping.

Hold Time
Setelah amplitudo sinyal input kembali ke bawah ambang batas, kompresor mereduksi aksinya selama waktu release hingga mencapai rasio kompresi 1:1. Waktu hold memungkinkan waktu release ditunda setelah sinyal kembali ke bawah ambang batas, sehingga kompresor tetap aktif untuk waktu yang lebih lama.

Output
Output bisa dikatakan sebagai gain. Anda dapat menggunakan output dari compressor untuk meningkatkan level volume.
Read More

Cara / Teknik merekam drum (drum recording)




Drum adalah salah satu instrumen musik yang paling rumit untuk direkam, mendapatkan hasil rekaman drum yang bagus bukan cuma didapat dari kualitas drummer dan engineer, tetapi juga dipengaruhi kualitas alat yang digunakan (drum, mic, kabel, dll) dan teknik memposisikan microphone. Dalam tutorial ini, kita akan membahas dasar-dasar merekam drum di studio anda.


Equipment
  •  Drum Set
  •  Microphone
  •  Pre amp
  •  Dan equipment recording lainnya


Tunning
Untuk mendapatkan hasil rekaman drum yang bagus, anda harus sangat memperhatikan tune dari drum tersebut. Tune drum mempengaruhi kualitas audio, dan jika tune sudah bagus maka pekerjaan editing dan mixing nantinya akan lebih mudah.

Kick, Snare, Tom dan Floor pada umumnya memiliki 2 skins (atas & bawah)
1. Batter head skin (atas) : berpengaruh terhadap "attack" dan initial pitch
2. Resonant head skin (bawah) : berpengaruh terhadap "overall pitch" dan sustain.

Tiap drum kit (Kick, Snare, dan Toms ) memiliki ukuran & materi bahan yang berbeda-beda, dan artinya tiap ukuran & materi memiliki resonan bunyi nada yang berbeda-beda pula. Ada beberapa Snare yang memiliki resonan bunyi dengan badwidth yang lebar, artinya Snare bisa ditune dari nada rendah sampai nada tinggi dan tetap menghasilkan Tone yang sempurna. Sebaiknya tunnning Snare sesuai nada dasar lagu, dan tunning tom dan floor mengikuti nada intervalnya.



Recording Kick
Gitar bass dan kick drum adalah apa yang menjaga alur lagu, dan Kick drum adalah pusat dari rhythm section lagu anda. Untuk merekam kick, anda dapat menggunakan microphone seperti Sennheiser E602, SM57, AKG D112, Neumann KM184 atau R92 (ribbon microphone) sangat terserah selera dan budget yang anda miliki untuk membeli microphone tersebut. Mulailah menempatkan microphone di kick drum dan dengarkan. Bagaimana suara yang dihasilkan? Jika boomy (terlalu low dan tidak jelas), tempatkan mikrofon lebih dekat dengan beater untuk suara kejelasan, jika itu suara yang dihasilkan terlalu ketat, maka geser kembali hingga mendapatkan sound seperti yang diinginkan. Lakukan percobaan eksperimen untuk posisi mic tersebut, dan tidak ada cara yang benar atau salah untuk melakukannya.


Tips:
  • Gunakan 2 microphones (dalam & luar). Microphone yang ditaruh di dalam untuk mendapatkan "attack" dari batter dengan baik. Microphone yang ditempatkan di luar untuk mendapatkan sound sub low.
  • Tapi untuk penggunaan 2 microphone perhatikan juga tentang Phase (korelasi antara kedua microphone). Saat mendapatkan posisi yang dirasa enak (In-PHASE), coba lakukan check PHASE, dengan cara membalik phase dari salah satu microphone. Jika suaranya jadi aneh / lemah / low-nya ilang (Out-of-Phase), berarti posisi mic yang sebelum di balik phase-nya sudah benar.


Recording Snare
Mendapatkan suara snare drum yang baik sangat mudah jika snare tersebut memang suaranya bagus, tune, sesuai karakter lagu dan dimainkan oleh drumer yang baik. Untuk merekam Snare anda dapat menggunaka microphone Shure Beta 57A, Josephson C42, Heil PR20, BeyerDynamic M201, dan lain-lain. Anda dapat menggunakan 2 microphone untuk merekam snare, 1 ditempatkan diatas dan 1 lagi dibawah.



Tips:
  • Gunakan 3 mic (2 di atas, dan 1 di bawah). Untuk 1 mic atas untuk mendapatkan "attack" & "snappy" dan 1 mic lagi untuk mendapatkan "Body". Kedua mic tersebut kita ikat dgn selotip dengan posisi yang sama dan ditaruh dibawah hihat dengan kemiringan 45derajat menghadap ke pusat SNARE (berlawanan dengan hi-hat) untuk meminimalkan spil / bocoran dari hi-hat.
  • Sedangkan untuk bottom snare anda dapat menggunakan dynamic microphone agar suara rattle yang terekam tidak terlalu tajam dan lebih natural ketimbang menggunakan condenser microphone. Dan jangan lupa membalikan phase untuk snare bawah karena arah penangkapannya yang berlawanan dengan microphones di atas.


Recording Toms
Pada kebanyakan drum kit, anda akan menemukan berbagai jumlah set tom, semua dari jangkauan tonal yang berbeda, biasanya drummer akan memiliki tom tonal tinggi, midle, dan tom lowh. Kadang-kadang anda akan menemukan drummer yang lebih beragam yang memanfaatkan beberapa tom semua disetel berbeda. Tapi pada studio recording biasanya cukup menggunakan 2 tom dan 1 floor saja. Microphone yang digunakan tidak jauh berbeda dengan microphone snare.



Tips:
  • Anda juga dapat menggunakan 2 microphone untuk 1 tom, tapi 1 microphone juga sudah cukup
  • Posisikan microphone 45 derajat mengarah ke tengah skin


Recording Hi-Hat & Ride
Anda bisa saja tidak menaruh microphone pada Hi-Hat atau Ride, dan suara terekam melalui overhead. Tapi sebaiknya gunakan chanel sendiri atau tetap merekamnya secara individual untuk Hi-Hat dan Ride (terpisah dengan overhead), hal itu juga akan memudahkan proses mixing. Hal pertama untuk merekam hi-hat adalah pemilihan hi-hat itu sendiri, hi-hat sangat rentan suaranya terekam terdengar murah dan bersuara sangat tajam seperti kaleng. Gunakan hi-hat dan percymbalan yang bagus, yang karakternya tebal dan tidak terlalu tajam.



Tips:
  • Gunakan microphone ribbon agar transient-nya dapat terjaga dengan baik.
  • Posisikan microphone sekitar 20cm diatas hi-hat bagian luar. Tujuannya adalah supaya mengurangi spil/bocoran dari snare yang terhalang oleh hi-hat bagian dalam.
  • Ketinggian microphone pun diatur supaya suara overall hi-hat dapet direkam dengan baik.


Recording Overhead
Mic positioning untuk overhead adalah hal yang paling penting untuk mendapatkan sound overhead yang bagus, selain itu ini juga akan sangat berpengaruh terhadap overall sound drum. Tujuan utama dari Overhead? ini adalah untuk mengambil seluruh suara piece instruments (namun lebih menitikberatkan pada cymbals) dan untuk menyatukan semua individual mic lainnya supaya suara semuanya terdengar sebagai 1 kesatuan. Anda dapat menggunakan microphone AEA R84, AKG C414, Oktava MC012, Marshal MXL series dan sebagainya.



Tips:
  • Penempatan awal dimulai dengan mengikuti teknik dasar ?3-to-1 Rule?, yaitu posisi dasar penempatan 2 microphone dimana jarak antara mic 1 dengan mic 2 haruslah 3x dari jarak antara salah satu mic terhadap instrument (drums). Formula ini dibuat untuk menghindari masalah Phase/comb filter.
  • Pan microphone 1 full kanan dan mic 2 full kiri (dead Left dan Dead Right)
  • Check Phase, dengan cara membalikan phase dari salah satu mic. Jika suara yang terdengar menjadi berat ke kiri/kanan (out of phase), maka artinya posisi sebelumnya sudah betul.
  • Ruangan/acostic room yang baik akan sangat berpengaruh pada track overhead.
Setelah langkah-langkah recording drum di atas, mulailah untuk merekam. Biasanya anda akan memerlukan efek Gate dan Compressor untuk editing setelah tracking selesai.
Read More

Fungsi dan kegunaan DI Box / Direct Box

Fungsi dan kegunaan Di Box atau Direct Box adalah, untuk mengubah sinyal Unbalance menjadi Balance. Agar sinyal dapat dikirim melalu kabel yang bemeter- meter panjangnya tanpa mengurangi kualitas sinyal secara signifikan. Oleh karena itu, peran Di Box untuk pertunjukan live sangat dibutuhkan, karena untuk kabel yang digunakan dari panggung ke mixer depan/FOH lumayan panjang, sekitar 50 meter kurang lebih. Umumnya DI Box digunakan untuk instrument seperti gitar, bass, keyboard, synthesizer dsb.

Kemudian bagaimana dengan rekaman, apakah peran DI Box dibutuhkan? Jawabannya tergantung apa yang digantung, hmmm.. maksud saya tergantung pada kabel yang digunakan. Kalau panjang kabel hanya berkisar 3 - 5 meter rasanya masih belum membutuhkan DI Box. Instrument Switch atau Hi-Z Switch aja sudah cukup.



Pada Behringer GI1000 terdapat fitur "Virtual 4x12 Cabinet Emulation" yang mengubah sinyal spekear menjadi sinyal line yang balance, maksudnya mixer FOH seolah membaca sinyal tersebut sama seperti dari microphone yang ditodong ke speaker kabinet. Ada beberapa cara pemasangan DI Box yang dapat digunakan. Misalnya, kita ingin mengambil karakter effect dan head amp. Secara bersamaan, dengan kata lain tidak menggunakan mic todong. Maka untuk urutannya adalah gitar --> effect --> input head --> input DI. sedangkan parallel outnya lgs masuk ke kabinet amp tsb.

Sedangkan untuk penggunaan mic todong, yang mana si gitaris ingin mengambil ketakter head dan effect secara terpisah. Maka urutanya adalah gitar --> effect --> input DI Box. Parallel outnya masuk ke input head amp. Sedangkan untuk rekaman jika anda ingin mengambil clean yang benar2 orisinil dari pick up gitar anda dan suara dari effect secara terpisah sehingga tidak membutuh dua kali take maka urutannya adalah gitar --> input DI Box. sedangkan parallel out --> effect --> input head amp. + microphone yang ditodongkan ke kabinet / DI Box tambahan, sehingga anda menggunakan dua channel terpisah untuk take gitar anda, aman dan simple bukan??

Direct ke Audio Interface / Soundcard? Yasudah tinggal gitar --> DI Box --> Audio Interface / Soundcard


Jadi, dari beberapa cara pemasangan DI Box diatas dapat kita simpulkan bahwa pemasangan DI Box itu semua tergantung pada kebutuhan si musisi itu sendiri, mana yang lebih baik untuk si musisi tersebut.

Lalu, apa perbedaan harga antara DI Box satu ke DI box lain sangat mempengaruhi kualitas suara / beda bunyi nya?

Menurut Bang Indaq :
Beda bunyi ada, tp harusnya ngk gitu signifikan krn fungsi dasarnya DI box hanya utk merubah sinyal dr unbalans ke balans. Bukan utk kolorisasi.

Klopun ada fitur tambahan apapun itu, plus 'casing' yg kuat utk segala medan misal menggunakan bahan baja alloy, ya ini yg bikin tambah mahal. Dan ini realistis banget krn setiap produk 'menjagokan' fitur dan durability/daya tahan produk tadi. Fitur plus inilah yg juga membuat harganya juga plus.

So kembali ke kebutuhan. Anda perlu yg gimana ? Simple, basic, dan casing ngk perlu sekuat baja alloy krn hanya perlu fitur dasar DI dan hanya dipakai indoor di studio, ATAU anda perlu fitur tambahan spt coloring yg kuat, casing tahan segala medan krn dipakai di lingkungan panggung outdoor yg kemungkinan utk rusaknya tinggi ?

Terakhir kembali ke bujeting anda sendiri utk DI box ini yg reasonable bagi anda pd angka brp. Yg terakhir ini cara yg paling realistis dan simple dalam memilih alat.
Read More

Cara / Teknik merekam bass (bass recording)

Insatrument Bass guitar merupakan pengisi rhytm section sebuah lagu, bass sangat penting pada semua genre lagu, baik pop, punk, rock, jazz, funk dan sebagainya. Biasanya ada anggapan? Sound bass yang bagus adalah yang kawin (nyatu) dengan kick drum? Bagaimana membuatnya? Atau biasanya tiap genre lagu memiliki karakter sound bass tersendiri, seperti bulat, tebal, dan lain-lain, apakah bisa dibuat ketika mixing?. Sound tersebut akan mudah didapat jika dimulai dengan teknik merekam bass yang baik.

Untuk mendapatkan sound bass yang baik dan seperti yang dibutukan, yang paling penting adalah kualitas bass itu sendiri, karena sound yang dihasilkan nantinya berasal dari karakter asli bass tersebut, jadi usahakan bass dalam keadaan sehat, minimal menggunakan string/senar baru (belum fals/sumbang) dan jika bass active sebaiknya menggunakan baterai baru. Hal kedua yang sama pentingnya adalah kualitas musisi/player yang memainkan bass tersebut, sound yang bagus sekalipun tidak akan menghasilkan kualitas yang bagus dengan permainan yang buruk. Berikutnya adalah teknik merekam bass yang baik, secara umum ada 3 teknik cara merekam bass, yaitu: DI (direct/langsung), menggunakan microphone (todong ampli), atau kombinasi dari keduanya.

Direct Injection atau Direct Input

Direct Injection atau sering disingkat dengan DI adalah teknik colok langsung, atau dalam recording adalah merekam langsung. Teknik ini maksudnya adalah bass anda dicolok kabel dan dihubungkan dengan DI box (kotak DI) dan DI box tersebut dihubungkan ke soundcard. Ini sangat disarankan jika bass anda tipe pasif, dan selain menggunakan DI box, anda juga dapat menggantinya dengan pre-amp sebelum masuk ke soundcard.



Kelebihan dari Merekam langsung adalah anda akan mendapatkan sound bersih dari bass yang anda rekam. Dan selama kualitas bass tersebut bagus dan permainan musisinya juga baik, anda akan mendapatkan sound yang terekam tersebut dapat dengan mudah dicompress, diedit dan di equalizing nantinya.

Merekam Menggunakan Microphone (todong)
Kebanyakan engineer memilih merekam bass menggunakan amplifier daripada menggunakan DI. Merekam menggunakan microphone lazim disebut dengan istilah todong mic, caranya bass tersebut dicolok ke amplifier bass (seperti saat latihan/manggung), lalu didepan cabinet amplifier tersebut ditaruh microphone (biasanya menggunakan dynamic microphone), lalu microphone tersebut dihubungkan ke soundcard. Suara dari microphone tersebutlah yang akan direkam ke DAW.


Kelebihan dari teknik todong adalah mendapatkan sound yang sudah dikompresi secara alami oleh speaker amplifier tersebut, selain itu tidak hanya mendapatkan karakter bass, tapi karakter amplifier tersebut, yang jelas karakter tersebut akan sulit didapat menggunakan virtual amplifier di DAW.
Read More

Tips untuk vocalist saat recording / rekaman





Bagi yang mau jadi penyanyi atau vocalis yang merekam vocal, mungkin artikel ini cucok banget buat nambah ilmu kalian dalam take vocal / merekam vocal. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam take vocal :
 
1. Artikulasi Kata
Nyanyi adalah ungkapan yang harus disampaikan. Jadi bernyanyilah seperti kita berbicara atau berkata-kata. Maka si pendengar lagu akan bisa menangkap dengan jelas apa yang kita sampaikan. Seandainya kita bicara tidak jelas, maka orang yang kita ajak bicara pun bilang “maaf, anda tadi ngomong apa?” nah itu akan mempengaruhi sekali terhadap hasil take vocal kita. Jadi intinya adalah harus jelas artikulasi kata kita, kalau kita sudah bernyanyi dengan jelas seperti orang berbicara, maka tidak sadar pula bahwa kita sudah bernyanyi dengan padat atau “tight”.

2. Memilih Microphone
Memang tak banyak studio rekaman yang menyediakan pilihan microphone yang banyak. Tetapi bila anda mendapatkan studio dengan fasilitas pilihan mic banyak, manfaatkanlah fasilitas tersebut dan carilah mic yang sesuai dengan karakter/warna vocal anda. Biasanya untuk vocal dibutuhkan polar pattern Cardiod (Unidirectional Mic), yang mana suara hanya tertangkap dari arah depan dan agak berkurang bila anda menyanyi dari sisi mic tersebut.

3. Jarak Mic
Take vocal atau merekam vocal yang bagus adalah berjarak 1 jengkal tangan antara mic dan bibir kita atau 15-24 centimeter, karena bila kita bernyanyi dekat sekali dengan mic, maka akan menimbulkan suara “beb” (letupan) ataupun “desis” (hizzing) yang terlalu berlebihan. Memang ada plugin yang menanggulangi masalah desis itu yaitu “De-Esser” atau hardware pop-filter untuk letupan (plossive), cuma alangkah baiknya kalau itu kita tanggulangi dari saat rekaman. Sebagus-bagusnya alat recording ataupun plugin, tidak bisa sealami orang bernyanyi natural, jadi mulailah belajar untuk bernyanyi dengan jarak yang cukup baik mulai sekarang.

4. Tone Vocal
Banyak yang bilang kalau jaman sekarang rekaman itu, semuanya bisa di atasi dengan peralatan yang serba canggih, itu memang betul sekali. Tapi satu hal yang tidak bisa disamakan antara manusia dan peralatan yaitu “tone vocal” atau karakter kita. Mungkin vocal bervolume kecil bisa di manipulasi dengan berbagai macam peralatan compressor sehingga terdengar menjadi keras. Tapi sesungguhnya vocal itu hanya keras tapi tidak bertenaga (powerless). Untuk dikalangan musisi senior atau pakar audio yang handal, pasti mereka bisa membedakan mana tone asli dan hasil manipulasi alat. Untuk itu, maksimalkan ‘tone vocal’ Anda.

5. Compressor
Fungsi compressor adalah untuk mengompres vocal yang terlalu besar dinamikanya. Nah, sebenarnya manusia sendiri punya compressor. Teriak tapi tidak peak, yaitu dengan cara menahan alunan tenaga dari diaphragm ke pita suara,tetapi tidak mengurangi nada/tone vocal kita. Itulah yang disebut “level control”, di perlukan teknik serta latihan yang cukup untuk dapat menguasainya dengan baik.

6. Soul / Penjiwaan (Rasa)
"…seorang vocalist pun harus belajar bagaimana bisa “memanipulasi” atau memerankan peran yang berbeda dalam setiap lagu-lagu yang akan dinyanyikan.."

Sebenernya semua ini berkaitan antara penjelasan yang satu dengan penjelasan yang lainnya. Soul/rasa/feel itu sangat penting buat seorang penyanyi. Karena rasa itu digunakan untuk menyampaikan apa isi dari lirik lagu yang kita nyanyikan. Menurut saya, vocalist itu sama seperti pelaku peran dalam sinetron atau drama, kenapa? Sebab pelaku peran itu biasanya bisa memainkan emosi/mood yang sesuai dengan peran yang akan diperankannya. Nah, sebaiknya seorang vocalist pun harus belajar bagaimana bisa “memanipulasi” atau memerankan peran yang berbeda dalam setiap lagu-lagu yang akan dinyanyikan..walau dia hanya mengekspresikannya dengan suara doang. Nah disini lah letak pentingnya dinamika bernyanyi, karena bisa memainkan emosi pendengar. Walaupun sesungguhnya sang penyanyi tidak lagi dalam kondisi sedih tapi harus nyanyi sedih. Kalau hal itu sudah dapat kamu pahami dan jiwai, dijamin suara kamu bakal terdengar lebih baik.

7. Review
Setelah take vocal selesai, coba dengarkan lagi tanpa ada satupun plug in atau efek yang menempel di track kita (flat). Apakah kamu sudah maksimal seperti apa yang di bahas dari point 1-6? Apakah kamu sudah ngerasa nyaman dengan hasil suara kamu selama bernyanyi, apakah sudah ada fill/soul/rasanya di setiap kata yang kamu ucap? Cobalah mengulangnya kembali kalau memang belum, sebaiknya dikoreksi supaya mendapatkan hasil yang maksimal.

Memang bernyanyi itu tergantung mood atau perasaan hati, jadi jagalah mood itu baik-baik selama kamu melakukan rekaman vocal. Ulangi lagi esok hari, kalau memang mood itu tidak ada. Have fun and be fun, saya sarankan saat anda melakukan rekaman, jangan tegang dan jangan ragu untuk meminta pendapat dari operator studio, produser atau orang yang berada saat kita rekaman.

8. Tips :
  • Bernyanyilah dengan artikulasi yang jelas !
  • Pilihlah mic yang memperkuat karakter suara Anda !
  • Atur jarak mic dengan mulut dengan benar !
  • Maksimalkan ‘Tone Vocal’ dari dalam diri Anda, bukan dengan bantuan alat !
  • Jaga dinamika suara atau gunakan ‘compressor’ alami yang ada dalam diri Anda !
  • Tunjukkan emosi saat bernyanyi sesuai kebutuhan lagu !
  • Review hasil rekaman suara asli Anda !
Read More

Istilah-istilah yang ada dalam dunia audio

Begitu banyak bahasa yang digunakan dalam dunia audio, dan terkadang sering kali membingungkan kita sebagai praktisi/musisi/penikmat/pengamat dalam dunia audio. Dibawah ini beberapa istilah/bahasa yang digunakan dalam dunia audio.

Anechoic Chamber :
Suatu ruangan yang dirancang khusus untuk menghilangkan pantulan suara dari dinding. Idealnya, sebuah anechoic chamber tidak menimbulkan pantulan suara pada frekuensi berapa pun (dindingnya menyerap semua frekuensi) dan dapat ‘me-reproduksi’ suara asli yang telah di rancang/desain seakurat mungkin terhadap percobaan yang kita lakukan disitu.

Audio Mixer :
Suatu alat yang berfungsi sebagai penguat dan penyeimbang dari beberapa sumber suara, menjadi satu keluaran (output) yang memenuhi kriteria untuk menjadi masukan (input) pada alat perekam.

Basilar membrane :
Suatu lapisan didalam rumah siput telinga bagian dalam kita yang bertugas menganalisa frekuensi dari gelombang suara yang diterima oleh gendang telinga.

Clip On :
Jenis microphone yang bentuknya kecil, dengan posisi pemakaian mic dipasangkan pada baju atau kostum pengisi acara. Bisa dengan cara dijepitkan ataupun dengan cara ditempel.

Clipping :
Sesuatu yang terjadi sewaktu amplitudo suara melewati ambang batasmaksimum. Umumnya suara menjadi pecah.

Complex tone :
Nada/suara yang mempunyai beberapa kandungan frekuensi, 99,9% jenis suara yang kita dengar adalah complex tone, hanya beberapa suara saja yang disebut pure tone (mempunyai kandungan satu macam frekuensi saja) seperti sine wave, beberapa jenis suara burung dan lain-lain.

Compressor :
Alat yang digunakan untuk mengatur dynamic range suara.

Critical bandwidth :
Lebarnya bandwidth suatu band-passed noise yang dapat menutup suatu narraow band signal yang mempunyai frekuensi tengah dalam daerah yang sama. Critical band diartikan suatu daerah yang membatasi suatu sensasi roughness dimana satu frekuensi dapat terdengar dengan jelas.

DAW (Digital Audio Workstation) :
Perangkat rekaman yang berbasis digital atau komputer. Seperti Nuendo, cubase, Sonar dll...

Decibel (dB) :
unit logaritmik untuk mengukur level suara.
(sebuah satuan yg digunakan untuk mengukur suara, seperti cm(centimeter) pada jarak).

D.I. Box :
Alat yang berfungsi untuk mengubah signal unbalanced (-10dB) menjadi balanced (+4dB).

Diffuser :
Alat/materi yang secara umum memantulkan suara dan dipasang untuk mengurangi suatu pantulan yang terfokus, biasanya diffuser dipakai untuk menyebarkan frekuensi tertentu ke segala arah dengan rata (sering disebut dengan sebutan diffuser).

Difraksi :
Salah satu sifat suara yang dapat “memutar” jika menabrak benda yang besarnya lebih kecil dari gelombangnya.

Early reflection / pantulan-pantulan awal suara :

Pantulan-pantulan awal suara dari sumber suara yang sampai ketelinga kita rata-rata dengan satu/dua kali memantul dari dinding/langit-langit/lantai. Besarnya sangat dipengaruhi oleh koefisien penyerapan suara dari bahan-bahan yang terpasang pada dinding /langit-langit/lantai. Suara ini biasanya sampai ditelinga kita tidak lebih dari 50ms setelah suara asli dari sumber suara sampai.

Equalizer :
Alat untuk mengubah tonal balance dari suatu spektrum suara.
(Alat yg bs meng-CUT/mem-boost frequency yg diinginkan dengan Q-factor tertentu)

Fundamental frequency / frekuensi dasar:
Frekuensi alam (natural frequency terendah yang dihasilkan suatu system (harmonic pertama).

Frekuensi / frequency :
Banyaknya getaran yang terjadi dalam jangka waktu tertentu (satuan nya adalah Hertz, yang biasa disingkat Hz).

FOH (Front Of House) :
Tempat yang digunakan untuk meng-control sound system.

Handheld Microphone :
Microphone yg dipegang oleh tangan/microphone genggam.

Harmonic:
Frekuensi-frekuensi spectrum suara yang berkelipatan bulat terhadap frekuensi dasar.

Infrasonic:
Frekuensi/suara dibawah batas pendengaran kita (kurang dari 20Hz).

Microphone :
Suatu alat yang mengubah energi gerak menjadi energi listrik.

Millisecond (ms):
Mili-detik. Sama dengan satu perseribu detik (1/1000 detik = 1 ms).

Mixer Monitor :
Mixer yang ada dibelakang atau disamping panggung yang konsentrasinya adalah untuk melayani pembagian suara dan balancing monitor diatas panggung.

Noise:
Suara yang tidak dinginkan.

Omnidirectional :
Polar pattern yang dapat menerima suara dari segala arah.

Overtones:
Frekuensi –frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi dasar, dapat berkelipatan bulat atau pecahan.

PA (Public Address) System:
Bahasa professional untuk sound system yg menghadap ke penonton.

Phonemes:
Bagian suara terkecil/tersingkat dari suatu bahasa.

Pink Noise :
Frekuensi dari 20Hz-20KHz dibunyikan secara bersamaan dengan volume kekerasan yang sama.

Resonansi:
Bagian suara terkecil/tersingkat dari suatu bahasa.

Reverberation time:
Waktu yang dibutuhkan suara untuk berkurang 60dB disuatu ruangan yang mempunyai dinding-dinding reflective.

Reverberance:
Suatu sensasi reverberation didalam sebuah ruangan, dapat juga diartikan sensasi dimana kita dikelilingi oleh suara.

RTA (Real Time Analyzer):

Alat untuk mendeteksi frequency, bentuknya seperti PDA namun built in microphone.

Sensitivity :
Besar kecilnya energy listrik yang dihasilkan oleh
microphone akibat energy suara yang mengenai membran
microphone.

Speech Intelligibility :
Kemampuan untuk mendengar dan memahami suatu pembicaraan,

SPL (sound pressure Level) :
Level tekanan yg di sebabkan gelombang suara biasa dengan satuan dB, bisa dilihat di setiap microphone (kemampuan SPL sebuah Microphone).

Tinnitus :
Sensasi ringing/buzzing/roaring/mendengung didalam telinga. Adalah suatu bentuk kerusakan yang terjadi dalam telinga kita.

Ultra sonic :
Frekuensi/suara diatas batas pendengaran kita (diatas 20.000 Hz)

White noise:
Suara yang tidak mengandung informasi, dimana suara ini mempunyai energy yang sama pada tiap interval frekunsinya. Contoh adalah suara air terjun.

Wirelless microphone :
Microphone nirkabel yakni microphone yang koneksinya tidak menggunakan kabel. Mentransmisikan sinyalnya menggunakan pemancar radio FM kecil yang terhubung kepada receivernya dalam satu sound system.
Read More

Tips dan trik untuk musisi / pemain musik sebelum tracking / rekaman / recording, mixing dan mastering

Untuk para pemain musik, anda perlu mengetahui, kalau sebuah musik / lagu yang bisa tersampaikan dengan baik ke pendengar itu adalah hasil "kerja sama" antara Sound Engineering (SE) atau yang lebih kita kenal dengan sebuatan operator (dari tracking, editing, mixing, sampai mastering) dengan para musisi / pemain musik...

kerjasama yang baik menghasilkan hasil yang baik... Benar tidak?!?

anda ingin membuat sebuah demo??,

atau bahkan sebuah album yang mempunyai kualitas yang bagus??
Silahkan membaca artikel dibawah ini... :)

 1. JANGAN BERPIKIR BAHWA ADA SEBUAH KEAJAIBAN DI STUDIO
Terlepas dari sebuah teori, sering banget para musisi / pemain musik berpikir kalau seorang Sound Engineering itu seperti tukang sihir yang apa bila sudah memutar-mutar kenob rack / mixer, click mouse di sana di sini dan, "tadaaaaa"....
Jadilah sebuah lagu yang pasti enak di dengar, bersih, jelas artikulasi di setiap instrument, dan pasti terdengar seperti yang kita bayangkan...
hhaa... dan itu semua tidak benar. jangan sekali-kali berpikir seperti itu.

Walau pun anda recording / rekaman di studio-studio besar, bahkan studio yang ada di luar negeri yang mempunyai alat-alat yang sangat-sangat-sangat-sangat mahal, mempunyai speaker monitor yang benar-benar flat, original software seharga puluhan juta, mixer yang mempunyai ratusan channel (emang ada yah??) dengan brand terkenal, bertumpuk-tumpuk rack yang satu rack nya bisa berisi puluhan hardware analog maupun digital (kira-kira tingginya bisa sampai 12 meter :# :p ) microphone dengan bentuk yang aneh dan mungkin hanya beberapa studio yang mampu membelinya

tapi bro...
TIDAK ADA YANG NAMANYA ALAT AJAIB PEMBAGUS SUARA

nah, untuk itu, sebaiknya anda melakukan persiapan sebelum melakukan proses rekaman / tracking / recording / take / istilah yang lain yang mungkin alfin tidak tahu :p

Contoh:
-Anda mempunyai gitar yang anda sayangi, walaupun anda mengetahui gitar yang ada di studio yang anda sewa jauh lebih bagus, anda tetap bersikeras untuk membawa gitar kesayangan anda. nah sebelum membawa gitar kesayangan anda ke sutio rekaman, alangkah baiknya apabila anda mengganti senar gitar anda, lihat fret-fret gitar anda, apakah masih bagus atau tidak, apabila gitar yang anda punya adalah sebuah gitar active, silahkan lebih dahulu mengganti baterai yang ada di dalam gitar anda.

-Apabila anda seorang drummer, tidak mempunyai kit drum sendiri dan hanya bergantung pada drum yang ada di studio rekaman yang anda sewa, alngkah lebih baiknya memilih studio yang sudah mempunyai sample untuk bisa kita dengarkan, apabila sample tersebut suara drumnya seperti yang anda inginkan, silahkan untuk survei lebih dahulu ke studio yang ingin anda sewa. lihat kit-kit yang mereka pakai, lalu apabila setting-an nya tidak seperti yang anda inginkan, bertanyalah pada Sound Engineering nya apakah boleh merubah / menyeting drum nya seperti yang anda ingin kan, oleh sebab itu, sebaiknya anda membawa kunci drum sendiri (paling tidak ada sedikit modal :p )

-Untuk Vocalist, sebelum rekaman alangkah baiknya menjaga kesehatannya, jangan sampai terkena flu yang akhirnya menderita suara bindeng, kemungkinan besar apabila anda bindeng, suara anda dengan musik tidak akan menyatu atau suara anda tidak mengikuti tune musik atau bahasa kasarnya adalah FALS :p . walau pun saat ini banyak software yang berguna untuk meng-tune kan suara vokal anda, namun lebih natural lebih bagus. Lalu beberapa jam sebelum rekaman / tracking vocal, silahkan melakukan relaksasi atau pemansan agar pita suara anda tidak kaget saat nanti anda rekaman. apabila anda baru tersadar beberapa hari sebelum take vocal suara anda serak dan ingin habis, coba untuk mengunyah kencur (mentah-mentah) walau rasanya agak kurang meng-enakan, namun kecur sudah teruji khasiatnya, kunyah lalu telan air dari kunyahan kencur tersebut. lalu ampasanya di buang saja (tapi apa bila anda suka silahkan untuk menelannya... hhe... :p )

-dan masih banyak yang harus anda lakukan untuk melakukan persiapan sebelum rekaman :#
Jangan sekali-sekali terpikirkan di benak anda "ah, nanti pada saat proses mixing kan bisa di benerin"
Atau apabila Sound Enginnering / Operatornya berbicara seperti itu, maka sudah pasti ia adalah seorang Sound Engineering amatiran

-Band yang bagus, hasil rekamannya bisa di buat jelek oleh seorang Sound Engineering amatiran

-Band yang jelek, hasil rekamannya bisa dibuat SEDIKIT lebih bagus oleh Sound Engineering yang bagus..

2. BERKOMUNIKASILAH DENGAN SOUND ENGINEERING.
Komunikasi antara Sound Engineering dengan  pemain musik yang ingin rekaman sangat penting sekali untuk mendapatkan sound yang di inginkan...
Sound Engineering perlu mengetahui informasi dari kita, sound seperti apa yang musisi inginkan..
Kalau Sound Engineering nya tidak inisiatif untuk bertanya, musisi yang harus membuka dan memulai komunikasi lebih dahulu.

Jangan berpikir untuk takut sama Sound Engineering. Tidak gigit kok... guk guk :# :p
Anda kan membayar, dan juga seorang Sound Engineering juga tidak haus akan materi kok, saya yakin, mereka juga ingin membuat lagu kita bagus kok, kan juga membawa nama studio yang anda sewa :p

3. PENDEKATAN DENGAN SOUND ENGINEERING / OPERATOR
Nah cara yang paling bagus dan mujarab untuk membuat Sound Enginerring semakin semangat dan bekerja keras adalah membuat dia seolah-olah menjadi salah satu personil dari band anda

Caranya??
Apabila anda membawa makanan atau minuman, coba untuk menawarkan atau sisihkan di meja Operator nya. dan apabila Sound Engineering / Operatornya merokok, tanya rokoknya apa, lalu beliin deh sebungkus, pasti berhasil. dan sound Sound Engineering / Operatornya pasti akan berpikir seperti ini "karya anda adalah karya saya juga" :@ . Dengan demikian, sang SE akan lebih merasa bahwa dia sedang mengerjakan karya bersama bukan karya orang lain.
(pasti nanti Sound Engineering / Operatornya pura-pura untuk menolak, biasa....gengsi.... beda sama sama saya... kalau saya, apabila ditawarkan langsung saya ambil itu semua makanan yang di tawarkan... :p :D :# :@ )

4. JANGAN PERNAH BILANG SAMA SE NYA KITA INGIN SUARANYA KAYA BAND "X atau Y atau huruf alfabet lainnya".
wah kata-kata tersebut sering sekali saya dengar :p
Sebuah album yang telah rilis kepasaran itu melalui proses minimal 3 tahap yaitu proses tracking, proses mixing, dan proses mastering, jadi jangan pernah membanding-bandingkan hasil tracking atau mixingan dengan album orang lain yang sudah di mastering

Jadi jangan sekali2:
-Mas..mas..mas..saya ingin gitarnya seperti suara gitarnya paul gilbert.
-Bang..bang..bang..saya ingin drumnya seperti suara drumnya slipknot
-Om..om..om..saya ingin suara vocal saya seperti suara vocalnya gita gutawa :p

Iya Kalau Sound Engineering tersebut mengetahui band / artist "X atau Y atau huruf alfabet lainnya" yang telah kita sebutkan.

lebih baik minta nya seberti ini:
-Mas, saya suka suara gitar van halen karena saya pikir sound nya akan cocok untuk lagu ini karena deep nya dapet tapi tidak menghilangkan high nya,

Jadikanlah seorang Sound Engineering / Operator sebagai teman berdiskusi tentang sound...
Pasti Sound Engineering / Operator akan lebih bisa menterjemahkan bahasa kita ke dalam hasil mixinganya.. kalau musisi masih meminta "saya ingin soundnya seperti band X" berarti sama saja musisi tersebut tidak mengetahui cara kerja Sound Engineering / Operator, karena Sound Engineering / Operator hanya mengcapture sound yang musisi hasilkan dan menempatkannya ke dalam album /  lagu...

5. ARANSEMENT YANG BAGUS ADALAH HAL YANG PALING UTAMA
Yup, musik yang bagus itu bukan dari hasil proses tracking nya, proses mixing nya atau proses mastering nya.
ARANSEMENT adalah bahan bakar utama yang akan menentukan kualitas dari sebuah lagu hasil tracking, mixing dan mastering.

Percuma saja untuk memaksa Sound Engineering / Operator untuk kerja rodi selama 3 hari full pagi siang malam tanpa tidur... kalau memang aransement tidak bagus... lalu mau di bagaimanakan lagi??... tidak akan mampu komunikasi dengan pendengar...
Read More

Tutorial mixing dengan mudah untuk pemula

Proses Mixing dalam dunia audio recording merupakan salah satu proses yang paling susah, memusingkan dan paling rumit menurut saya. Begitu banyak plugins atau efek yang harus dipakai dan tentu saja harus dimengerti untuk proses ini. Salah satu pedoman saya dalam proses me-mixing adalah, jangan memasukan suatu plugins / efek yang tidak diketahui kegunaan nya atau tidak dimengerti cara penggunaannya. Selain sia-sia dan memberatkan kinerja komputer, juga bisa merusak sound atau suara pada track anda.

Pada tutorial ini, saya hanya membahasa secara umum bagaimana proses mixing yang biasa saya lakukan. Dan juga karena saya pemula atau newbie dalam hal ini, maka postingan ini saya pun saya beri judul "Tutorial mixing secara mudah untuk pemula"

Oke langsung saja pada tutorialnya.

  1. Bukalah project atau track yang anda rekam sebelumnya di sebuah software daw atau software multi track recording.
  2. Setelah terbuka, coba play dan lihat meter pada master track / master fader nya (untuk software stenberg cubase dan steinberg nuendo, bisa menekan tombol shortcut F3 dan lihat paling kanan pada mixer nya).
  3. Apabila clip atau peak (biasanya akan ada tanda berwarna merah atau meter nya melebihi 0db) silahkan untuk menurunkan masing-masing track (track gitar, track bass, track vocal dan seterusnya), ingat seluruh tracknya, bukan master track / master fader nya yang diturunkan.
  4. Setelah aman / tidak clip atau peak, cobalah untuk mem-balancing dengan menurun atau menaikan volume pada track masing-masing. Dalam proses balancing saat ini, anda tidak perlu untuk mem-balancing secara detail, apabila sudak terdengar enak dikuping anda, maka sudah cukup.
  5. Coba dengarkan beberapa kali dari awal sampai akhir lagu, hal ini bertujuan agar anda dapat mengenal materi-materi yang anda ingin mixing. Bahasa kerennya adalah, agar lebih familiar dengan materi setiap track dan instrument yang sedang anda mixing. Pada tahap ini jangan atau tidak perlu memasang efek atau plugins.Nah setelah anda mengenal dan lebih familiar dengan track-track instrument yang sedang anda mixing, maka cobalah untuk mengkelompokkannya, hal ini bertujuan agar anda tidak bingung nanti saat anda me-mixing lebih jauh.

    Yang biasa di kelompokkan:
    -drum (snare, kick dan seterusnya) dengan perkusi
    -low instrument seperti bass dan lain-lain
    -guitar bisa distorsi, struming, arpegio, wah-wah dan lain-lain
    -vocal (alangkah baiknya vocal di kelompokan kembali, antara lead vocal dan backing vocal)
  6. Setelah mengelompokkan atau grouping, cobalah untuk panning (kanan, tengah, kiri) track-track instrument yang anda sedang mixing hingga tercipta suatu stereo imager atau terdengar lebih luas (stereo), perhatikan pada saat melakukan panning agar tidak ada suara atau instrument yang terlalu memihak ke kanan ataupun ke kiri (bahasa inggrisnya adalah timplang :D ). Yaitu tidak terlalu banyak instrument yang berada di kiri maupun di kanan, seimbang deh pokoknya.
  7. Setelah itu saat nya untuk me-mute semua channel kecuali drum. Saat nya menyiapkan plugins compressor,  compress track-track drum yang memiliki dinamika yang luas (bahasa gampangnya, memiliki suara yang kadang besar, dan kadang kecil). Biasanya untuk drum memakai ratio yang besar seperti 8:1, namun juga tergantung pada sumber atau source suara / materi yang kita mixing, begitu pula dengan threshold. Untuk attack nya bisa memakai auto (apabila plugins yang di pakai memiliki fitur tersebut) apabila tidak coba di setting tergantung pada tempo lagu materi yang sedang di mixing. Beri gain apabila diperlukan.

    Agar memudahkan, kita dapat melihat di tampilan gelombangnya, track-track mana yang memerlukan peng-compress-an.

    Begitu pula dengan track bass dan vocal, buka track tersebut satu-persatu lalu stabilkan dengan memakai plugins atau efek compressor.

    Ingat, jangan terlalu meng-compress terlalu over, sebuah lagu memerlukan dinamika agar terdengar lebih "hidup". Jadi pakai plugins compressor ini bila hanya dibutuhkan dan gunakanlah dengan bijak :D
  8. Masih dengan tiga track diatas (drum, bass dan vocal). Siapkan sebuah reverb. Tapi reverb ini tidak digunakan untuk bass yah, hanya untuk drum dan vocalnya. Gunakan dua buah reverb yang dipasang di send aux atau send fx. Satu untuk drum nya dan satu lagi untuk vocalnya. Saya biasa menggunakan reverb hall untuk vocal, tapi tergantung genre dan karakteristik vocal nya. Apabila masih kurang atau tidak cocok dengan preset bawaan dari plugins atau software reverb yang anda pakai, coba untuk men-setting reverb timenya, hpf / low cut nya, lpf atau hi cut nya, pre delay dan lain-lain.

    Ingat! Kesalahan atau salah setting pada efek reverb membuat sound atau lagu anda terdengar amatir.  Contoh nya suara vocal seperti di dalam sumur, suara drum seperti didalam gua dan lain-lain. Gunakan dengan bijak plugins reverb ini.

    Setelah memberi reverb, coba untuk dengarkan kembali. Biasanya sesudah memakai fx reverb ini balancing nya jadi berubah, atur atau balancing kembali dengan menaik dan menurunkan volume pada masing-masing track. Sesekali lihat juga master fader atau master tracknya, jangan sampai peak atau clip atau melebihi dari batas 0db.
  9. Nah apabila ketiga element diatas sudah terdengar bagus, anda sudah mempunyai pondasi nya. Selanjutnya tinggal buka satu persatu track instrument lainnya sambil di balancing kembali.
  10. Masukan compressor lagi apabila ada instrument selain ketiga elemen diatas yang terlalu luas atau lebar dinamikanya (kadang besar, kadang kecil suaranya)
  11. Apabila ada sound / bunyi dari track yang tidak diinginkan bisa memakai equalizer untuk mengcut atau memboost di frequency yang mengganggu. Apabila dari kesemua track low nya terdengar menggulung, coba di low cut atau HPF (high pass filter) menggunakan equalizer. Apabila hi nya ada yang menyerang atau terlalu sakit di telinga, cut di frequency yang dimaksud menggunakan equalizer juga.
  12. Ada bunyi click yang mengganggu? Gunakan declicker
  13. Ada bunyi noise yang mengganggu? Gunakan denoiser
  14. Di vocal, saat pengucapan huruf "S" "C" berlebihan dan menyakitkan telinga, bisa menggunakan deesser
Read More

Merekam Di Kamar yang BerNoise

Bagi yang baru mulai belajar rekaman biasanya menggunakan mic dynamic. Mic dynamic adalah mic yang paling sering dipakai untuk karaoke, harganya murah dan tahan banting. Perlahan-lahan lalu mulai beranjak beli peralatan lumayan, dan tentunya microphone condenser.

Tapi banyak yang biasanya rekaman ngga ada masalah, begitu menggunakan mic condenser malah jadi masalah. Ada yang bilang, microphone ini terlalu peka. Segala suara noise mulai kipas computer, AC, suara lalu lintas ikut tertangkap masuk. Kebanyakan hal ini terjadi pada yang merekam di kamarnya, tanpa isolation yang memadai atau tidak memiliki vocal booth.

Apabila mencoba menanggulangi dengan mengecilkan gain pada pre amp / converter maka tidak akan berhasil karena tentu saja noise nya menjadi kecil, tetapi begitu juga dengan signal yang kita mau. Misalnya vocal.

Ada beberapa cara yang lebih efektif yaitu :


  1. Close micing. Dengan begitu maka sebagian besar signal yang tertangkap oleh microphone adalah direct sound. Dengan kata lain mengurangi jumlah porsi noise/ambient sound. Tapi berhati-hatilah dengan close micing ini karena apabila terlalu dekat bisa terjadi penambahan frequency low yang disebut juga dengan proximity effect. Tapi setidaknya ini bisa dihilangkan dengan EQ pada saat mixing nanti.
  2. Apabila menggunakan microphone condenser dengan polar pattern cardioid, cobalah untuk mengarahkan microphone supaya membelakangi sumber noise. Microphone dengan polar pattern cardioid menangkap suara dari depan, dan me reject suara yang datang dari belakang sehingga apabila microphone ditaruh dengan posisi membelakangi noise (misalnya suara AC), maka noise yang masuk ke microphone akan menjadi kecil.
  3. Apabila noise yang ada bersifat konstan, bisa dicoba dengan menggunakan noise reduction plug in. Contohnya waves x-noise. Cara memakai nya mula2 play bagian yang hanya berisi noise nya saja ( tanpa suara lain nya ) sehingga si plug in bisa mempelajari noise print nya. Setelah itu, tinggal mengeset threshold dan noise reduction level yang kita inginkan.
  4. Buat vocal booth sederhana, misalnya triplek yg dilapisi busa akustik mengelilingi microphone untuk mencegah noise tertangkap microphone. Lalu microphone diarahkan ke tembok atau dimana tidak ada noise lain yang bisa masuk. Bagusnya di belakang vocalist diberi peredam juga.
MH Studio Music & Recording
Read More

Trick Take Vocal

Biasanya rekaman vokal ada beberapa masalah :

  1. Plosive
  2. Noise
  3. Sibilance
  4. Proximity Effect
  1. Plosive = bunyi meledak2 yang terekam saat vokalis menyebutkan huruf2 p, b, d, t. Misal saat menyebut kata pergi, bila, dia, tahu dll.
    Solusi :
    • Pake Pop shield di antara mic & penyanyi (yg bentuknya bulat berkain itu)
    • Kalo tidak punya pop shield, ngakalin pake trik : posisi mulut jangan pas di mic tapi agak ke atas dikit. Kalo pake cara ini, input gain harus di naikkin supaya level yang terekam tetap bagus.
  2. Noise = bunyi yang konstan yang tidak di inginkan yang ikut terekam seperti bunyi AC, fan komputer dll.
    Solusi :
    • - Rekam di tempat yang kedap suara (vocal booth di studio)
    • - Kalo gak punya vocal booth, gantung 4 karpet tebal di sekeliling penyanyi dalam bentuk bujursangkar / mengurung penyanyi.
    • - Matikan sumber suara yang terekam spt matikan AC kalo bunyinya terekam banyak....berkorban dikit kepanasan saat take
    • - Bisa juga pake plug-in Noise Reduction setelah direkam. Walau ini hasilnya pasti gak sebagus solusi yang sebelumnya.
  3. Sibilance = huruf 's' yang over. Kasus ini hanya ada pada beberapa penyanyi. Perhatikan saja apakah saat mengucapkan kata yang ada huruf s. terdengar tajam atau tidak. Kalau tajam....
    Solusi :
    - Setelah di rekam, gunakan plug-in De-Esser utk mengurangi ketajaman suara 's' ini
  4. Proximity Effect = Suara menjadi terlalu ngebass saat mulut dekat mic. Semakin dekat mulut ke mic, semakin besar frekwensi bass yang terdengar.
    Solusi : - Cari posisi dimana kandungan frekwensi bass tidak berlebihan tapi juga tidak kurang dengan mengatur jarak mulut dgn mic.
MH Studio Music & Recording
Read More

Apa itu Deesser?

Deeser adalah sebuah compressor yang bekerja hanya pada frequency tertentu, biasanya sekitar 6 - 8 khz atau sibilance frequency. Deesser banyak digunakan untuk mengurangi bunyi ssshh ketika vocalist dengan mic condenser mengucapkan kata spt "sssayang, sssuka, sssemaumu, dsb nya" atau kata lain yg mengandung huruf s Smiley

Bisa diterangkan begini .... apabila seorang SE mendapati sibilance pada track vocalnya, tentu saja dengan mudah bisa dihilangkan dengan memotongnya memakai EQ. Misalnya potong -6 dB pada frequency 6 khz maka hilang masalah sibilance nya. Tapi masalah baru timbul karena apabila itu adalah jalan keluarnya maka seluruh track vocal akan menjadi mendem (karena dipotong frequency 6 khz nya)

Bagaimana kalau kita memiliki sebuah EQ yg bekerja hanya pada saat dibutuhkan? Inilah jalan keluarnya yaitu dengan menggunakan deesser. Fungsi deesser yaitu : sebagai compressor dia memonitor sibilance frequency. Ketika penyanyi tidak mengucapkan huruf sss maka deesser tidak bekerja. Akan tetapi ketika sibilance terjadi otomatis terjadi lonjakan di sibilance frequency (biasanya skt 6 khz). Deeser langsung beraksi dengan menekan/mengcompress sibilance frequency tersebut.

Jadi yang di compress hanya sibilance frequency nya saja, ketika terjadi lonjakan gain pada frequency bersangkutan. Ini garis besar nya cara kerja deesser... Deesser kadang disebut juga Frequency Selected Compressor atau Compressor yang bekerja pada frequency tertentu. Apabila tidak ada plugin deesser maka bisa menggunakan multiband compressor dengan hanya mengaktifkan compressor yg berhubungan dengan sibilance frequency. Compressor pada bandwith lain nya misalnya low frequency bisa di bypass

Deesser dapat digunakan bukan hanya pada track vocal, tapi juga instrument lain ketika sang SE ingin menghilangkan frequency tertentu saat frequency yang bersangkutan melewati threshold atau batas yang ditentukan. Misalnya kita punya sebuah track bass gitar yang sound nya sudah bagus. Akan tetapi setiap kali awal petikan nya ada bunyi gesekan senar dan fret yang agak menyerang telinga spt bunyi cittt citttt begitu he he Smiley ... Seperti contoh pada vocal tadi, kita tidak bisa meng EQ karena apabila kita EQ jadinya sound bass gitar yang sudah bagus tadi akan berubah.

Jalan keluar nya bisa kita gunakan deesser, lalu mengeset frequency nya pada frequency yang tidak kita sukai. Setelah itu tinggal kita atur threshold untuk menentukan berapa dB dari frequency tersebut yang akan kita buang.


MH Studio Music & Recording
Read More

Frequency pada Audio

Setiap sumber suara memiliki fundamental frequency , dan ternyata kebanyakan dari instrumen music termasuk vocal fundamental frequency nya terbilang rendah,yaitu hanya dibawah 3.500hz, sedangkan detail karakter,warna suara(timbre), transparency, fret noise, breathing dsb ada di Harmonic Frequency. (3.5hz-20khz)

Sebagai contoh rentang frekuensi vocal wanita; Fundamental f nya sekitar 300hz-3khz,sedang harmonic f nya 3kz-1khz, dan yang kita de esser adalah sibilance pada harmonic frequency antara 6-7khz,dan compressing pada frekuensi ini tidak mengganggu frekuensi fundamentalnya.

Untuk mempermudah kita meng equalize frekuensi kita sangat perlu mengenal tentang Penamaan jenjang rentang frukuensi (f), yang adalah sebagai berikut :

  • Bass (kisaran 20hz-140hz). Sangat jarang instrument yang punya f < 60hz semisal organ,contra bass dan string bass, kebanyakan antara 60-140hz, dan kuping sangat merespon perubahan f sekitar 60-90hz, jadi ketika ada f bass dari instrument yg ngegulung coba di cut di sekitar itu untuk menghindari dullness.
  • Mid-Bass (140hz-400hz). Kebanyakan instrument fundament f di rentang ini termasuk vocal pria, direntang inilah jika kelebihan amplitude, suara akan terdengar “muddy” dan “boomy” nya suara, dan jika amplitude nya terlalu lemah makan suara akan terdengar “thin & hollow” tipis dan tidak padat. Semakin balance maka nada dari sumber suara akan terdengar jelas.
  • Mid range (400hz-2.5khz). Vocal perempuan dan beberapa instrumen tiup(piccolo, flute dsb) fundament f nya ada di rentang ini, dan di midrange inilah harmonic frequency mulai berperan <(contoh harmonic,jika fundamental frequency pada piano not A ada di 440hz maka harmonic 1 nya ada di 880hz, 1320hz, 1760hz, 2200hz.)> jadi hati2 jika menggunakan perangkat/plug in harmonic, kalo salah treatment bias bikin fales. Depth, transparency, detail dan karakter suara juga banyak ditentukan di Midrange f, Equalizing di midrange sangat responsive, hati2 mentweaking Parameter G (Gain), F (Frequency), dan Q (Bandwith) pada midrange, seperti yang koh rudi bilang “lebih baikmeng cut dr pd mem boost, itu pun juga kalo kepaksa banget” Basah dan keringnya reverb juga banyak berperan di mid range, termasuk dimensi ruang yg di inginkan,
  • Upper Mid range (2.6khz-5.2khz). Sedikit banget instrument yang fundamantel f nya di range ini (missal: piano pada octave tertingginya ), disinilah presence akan terdengar,sebagai contoh harmonic f cymbals ada di rentang ini,kususnya pada sustain dari suara cymbals yang sangat membagun kecerahan suasana, sibilance juga mulai kerja di upper midrange. Dan rentang Mid range dan Upper Mid range sangat kuat kaitannya artinya saling ketergantungan, keseimbangan dari Mid range dan Upper Mid range akan menghasilkan suara yang mengesankan.
  • High End -Region 1 (5.2khz-12khz). Instrumen yg punya fundamental f sedikit banget (misalnya pie organ dan beberapa alat tiup,/flute) disini yang namanya sibilance, brightness, brilliance bekerja. Kalo over maka bias bikin harsh alias pedes banget di kuping. Speaker high end yang paling maskimal mereproduksi frequency ini dengan baik.
  • High End -Region 2 (12khz-20khz). Biasa juga di sebut super high frequency, kebanyak yang nongol di region 2 ini adalah harmonic ke-2, ke-3 dstnya, kepekaan kuping kita pun juga tidak begitu kuat merespon frequency ini, malah kebanyak instrument di Low Pass Filter pada f ini.
MH Studio Music & Recording
Read More

Menggunakan speaker flat untuk studio monitor

Memiliki sebuah studio rekaman baik pribadi maupun yang taraf profesional, adalah merupakan idaman bagi para musisi. Jika anda bermodal besar maka tak susah payah anda baik yang pemula maupun yang memang sudah mengerti masalah recording, tinggal membeli satu set komplit dengan daftar alat-alat yang memang sudah dianjurkan oleh pakarnya. Akan tetapi jika anda seorang pemula yang membeli alat satu persatu (nungguin budget terkumpul), maka anda harus berhati-hati dalam memilih alat untuk home recording studio anda.

Sebaiknya anda jangan terburu-buru dalam membeli alat, perbanyak referensi masukan tentang daftar alat-alat yang dibutuhkan, anda bisa berdiskusi lewat internet maupun tanyain langsung sama sang audio engineering yang anda percayai. Jangan sampai karena butuh terwujut cepat impian anda, maka anda grubak-grubuk dalam membeli alat, yang nantinya berbuntut membeli alat baru lagi dikarenakan alat yang sudah anda beli tidak cocok.


Peralatan yang dibutuhkan untuk mambangun sebuah studio recording ada banyak macamnya, nah disini naknus akan mencoba mengenalkan pentinganya sebuat studio monitor bagi studio recording anda. Pengalaman yang naknus alami dan juga dari temen-temen yang pernah bilang adalah, ketika kita sudah memixing dan menjadikan hasil rekaman dalam bentuk MP3, ternyata pas di setel di lain tempat hasilnya jauh berbeda. Yang suara basnya jadi hilang, treablenya kebesaran, dan berbagai macam hal. Ternyata setelah berkonsultasi sama pakar-pakar dan nyari-nyari penyebabnya di internet, hal tersebut dikarenakan disaat proses mixingnya menggunakan studio monitor yang tidak standar (maklum bos lagi nyoba-nyoba alias amatiran).


Sebuah studio monitor yang profesional sangatlah diperlukan dalam proses penggarapan perekaman lagu yang kita rekam. Para audio engineering banyak yang menyarankan untuk menggunakan studio monitor yang merespon frekuensi flat / linear. Banyak yang mengatakanya dengan “speaker flat” dengan kata lain sebuah speaker yang mampu mereproduksi kualitas nada suara yang akurat dari audio sumber (sering diistilahkan dengan “uncolored” atau “transparan”) dan speaker tersebut bisa meminimalisir emphasis atau de-emphaisis (tekanan) dengan demikin tidak ada pergeseran phase shift dari sebuah frekuensi yang artinya tidak ada distorsi dalam penggunaan speaker ini. Jadi dengan menggunakan speaker flat kita akan mendapat suara dasarnya atau aslinya. Dan biasanya speaker flat mampu merespon frekuensi dalam range yang luas sehingga semua peralatan yang kita rekam terdengar dengan jelas semuanya.


Speaker monitor bentuknya ada berbagai macam, ada yang pasif dan ada yang aktif. Speaker flat pasif sering disebut dengan “unpowered monitors & amp”, pada sistem pengoperasiannya menggunakan power ampli yang terpisah, dan untuk instalasinya harus memerlukan sedikit pengetahuan tentang audio instalasi. Jika anda seorang pemula setingannya ditanggung ruwet, tapi jika anda seorang profesional, metode ini akan menghasilkan sebuah sistem monitor yang anda inginkan. Nah satunya lagi adalah speaker flat berjenis aktif, disini anda tidak diwajibkan memiliki pengetahuan tentang ohms, watt, damping, overload protection, crossover dan lain-lainnya, tinggal colok langsung jadi, karena didalamnya telah terinstal power ampli yang tinggal colok, cuman jika anda menginginkan fasilitas yang lebih, seperti colokannya berapa, kekuatan powernya berapa dan lain sebagainya, anda menemui kesulitan untuk menambahkannya, harus terperinci sebelum membeli, liat dulu fasilitas didalamnya.


Harga untuk sebuah monitor flat boleh dibilang bisa bikin kantong bolong. Jika anda berkeinginan membeli speaker monitor yang flat maka siap-siap dulu budgetnya. Jika anda belum kuat membeli speaker flat maka bisa juga anda mencari headphone dengan kelas standart studio. Akan tetapi dengan menggunakan headphone yang berkelas bukan merupakan solusi yang akurat. Banyak para ahli yang mengatakan jika kita memixing dan memastering dengan menggunakan headphone, maka hasilnya kurang maksimal. Suara speaker headphone suaranya langsung tepat ke telingga kita, jadi suaranya sempurna, jika dipake untuk memixing suara akustiknya kurang keluar. Telinga kita merupakan telinga stereo, suatu kesalahannya jika kita menggunakan headphone adalah telinga kanan kita tidak mendengar speaker disebelah kiri, begitu juga sebaliknya telinga kiri tidak mendengar speaker sebelah kanan. Dengan memonitoring hasil rekaman dengan menggunakan headphone suara terdengar sempurna, jadi pas kita mastering biasanya hasilnya terdengar bagus dan sempurna, tetapi pas disetel ditempat lain yang tidak menggunakan headphone, hasilnya jadi menurun. Jadi jika kita memonitor dengan menggunakan headphone, bukan menjadi patokan yang pas.


Menurut naknus jika anda serius membangun setudio recording, sound monitor yang profesional harus anda miliki, tetapi jika untuk home recording, sebuah headphone standart studio sudah cukup, sembari anda mengumpulkan uang untuk membeli speaker monitor flat. Dan jika dana tidak mencukupi maka speaker maupun headphone sembarangpun juga tidak menjadi masalah, cuman hasil rekamannya nanti kalo diputar ditempat lain, jadinya berbeda jauh dan tidak bisa dijadikan patokan dalam memixing maupun mastering.


MH Studio Music & Recording
Read More

Tips Rekaman dan Mixing

peralatan audio bukan hanya para SE dan studio rekaman aja yang beli. Melainkan mulai dari anak SMA dan Musisi yang mencoba rekaman sendiri di rumah. Banyak dari para pendatang baru di bidang audio ini yang punya kesulitan untuk mendapatkan hasil mixing yang pro. Hasil mixing kedengeran nya sudah oke, tapi koq ada yang kurang ya???

Berikut Tips rekaman dan mixing pada studio recording / studio musik :

  1. Monitoring Level. Mungkin karena gakut telinga lelah atau gak mau ganggu teman yang lagi tidur di studio rekaman, beberapa orang mixing dengan volume yang pelan. Ini tidak baik. Kalau kamu mixing dengan volume yang terlalu pelan, maka kemungkinan besar hasil mixing kamu akan kebanyakan bass. Ada hubungan nya dengan teori kurva fletcher / munson yang singkatnya mengagakan bahwa telinga manusia pada saat volume rendah gak seberapa sensitif pada low & high frequency. Coba saat kamu mixing dengan volume rendah, setelah selesai lalu naikkan volume nya.
  2. Hasil akhir yang mendem. Ini juga masalah rutin yang banyak terjadi hehehe. Kalau kamu perhatikan ada beberapa CD pro yang bright, high frequency dan tidak mendem. Sedangkan kalau kamu coba EQ pasti akan sakit ke telinga, dan gak mendapatkan sound spt itu. Lalu itu sound apa?? Jawabnya adalah HARMONIC. Jadi kalau mau cari sound untuk Studio Recording itu musti beli alat yang namanya exciter, vitalizer, dsb yang akan meng create harmonic content untuk musik kamu. Cara kerja nya exciter adalah dia akan me-recreate high frequency yang hilang atau tidak ada dari sana nya. Jadi beda dengan EQ pada Studio Music. Hati2 dengan penggunaan exciter karena mungkin bisa jadi kamu tidak menyadari terlalu banyak memberi exciter. Apalagi kalau pada master fader. Tahu2 hasil mixing kamu terlalu bright jadi nya.
  3. Experiment dengan Reverb. Pertama kali, reverb harus ditaruh di fx channel atau aux channel pada Studio Band. Jangan di insert karena akan menghabiskan CPU kamu. Carilah reverb yang baik bunyi nya. Jangan sembarang ambil reverb lalu pakai preset. Penggunaan reverb yang salah akan menyebabkan hasil mixing terdengar amatir, dan gak dapat diperbaiki saat mastering. Misal nya vocal yang seperti di dalam sumur, atau snare reverb yang jadul dsb.
  4.  Gunakan EQ seperlu nya. Selalu usahakan untuk mendapatkan hasil yang di inginkan pada saat tracking. Ingatlah pepatah "Rubbish in Rubbish out". Secara pribadi aku selalu mencoba mixing tanpa menggunakan EQ sama sekali. Tapi akungnya di sini sering dapat job hasil tracking orang lain. Semakin parah material nya, terpaksa deh menggunakan banyak EQ
  5. Gunakan Compressor seperlu nya. Kalau misal nya bisa kelihatan di graphic nya misalnya waktu intro pelan, lalu waktu ref jadi kencang, gunakan aja automation untuk menyamakan nya. Sound nya pada Studio Musik lebih natural lho. Dan untuk yang baru coba2 pake compressor, kalau settingan ngga benar malah buat sound nya jadi ngga enak. Ngga percaya? Coba experiment dengan sound yg agak fluktuatif. Misal nya acoustic guitar yang petikan, taruh compressor hingga didapat Gain Reduction sekitar 6 dB. Lalu setting attack 5 ms, release 10 ms. Gimana hasil nya? Kemungkinan besar sound nya akan terdengar pecah.
  6. Pakailah Speaker Flat. Speaker flat itu netral artinya tidak ada frequency yg di boost, juga dia lebih detil dalam me reproduksi suara. Misalnya yang ngga akan kedengeran di speaker rumah spt background noise, akan terdengar di speaker flat. Juga speaker rumah sangat sulit untuk fine tuning parameter. Reverb panjang dan pendek ngga jelas beda nya. Lalu suara bass dan oboe jadi mirip hehehe. Begitu juga susah waktu meng EQ instrument pada Studio Music. Tapi memang banyak yg tertipu dengan speaker flat karena belum biasa. Biasa nya dengar speaker rumah yg bass nya mantap, lho koq di speaker flat ngga gitu berasa. Jadi nya pas mixing di speaker flat kegedean bass nya untuk Studio Band. Begitu juga dengan treble.
MH Studio Music & Recording
Read More

DAW ( Digital Audio Workstation )

DAW ( Digital Audio Workstation ) adalah sebuah sistem rekaman berbasis computer yang di rancang untuk menggantikan studio rekaman tradisional. DAW memiliki segala kemampuan dari studio rekaman tradisional seperti multi track recording dan playback, juga penggunaan berbagai macam fx untuk mixing seperti compressor, reverb, dan EQ. DAW modern bahkan memiliki kemampuan yang tak dimiliki oleh sistem studio rekaman masa lalu seperti kemampuan undo, non destructive editing, vocal correction, drum replacement, amp simulator, dsb.

Studio berbasis DAW terdiri atas 5 komponen utama yaitu:

  1. Computer. Computer berfungsi sebagai “host”dari Multi Track Software, dan Audio Converter. Computer juga menyediakan processing power yang diperlukan untuk operational audio dan plug in. Computer untuk DAW memiliki spesifikasi yang berbeda dengan kebanyakan computer kantoran atau game. Beberapa spesifikasi tambahan adalah:
    • · Tingkat kebisingan yang rendah
    • · Operating System yang di set untuk penggunaan software audio
    • · Hard Disk yang memiliki cluster size lebih besar
    • · Sound Card on-board yang dimatikan untuk mencegah conflict
    • · dsb
  2. Multi Track Software. Disini adalah software yang kita gunakan untuk memproses data hasil rekaman. Biasanya sudah dilengkapi plug in seperti compressor, reverb, EQ, amp simulator, drum replacement, dsb. Beberapa Software yang banyak digunakan adalah:
    • · Pro Tools
    • · Cubase / Nuendo
    • · Sonar
    • · Digital Performer
    • · Logic
    • · dsb
  3. Audio Converter. Berfungsi untuk merubah signal analog menjadi digital, juga kebalikan nya yaitu digital menjadi analog. Converter yang kita maksud disini berbeda dengan sound card kebanyakan yang sering dipakai untuk rumahan atau game. Perbedaan adalah:
    • · Memiliki input yang lebih banyak untuk dapat merekam beberapa instrument secara bersamaan. Biasanya antara 4 hingga 12 input.
    • · Bisa di link. Apabila satu buah converter tak mencukupi, maka beberapa buah converter dapat di link untuk menyediakan input yang lebih banyak.
    • · Dapat merekam dengan sample rate yang lebih tinggi.
    • · Memiliki bit resolution / dynamic range yang lebih baik. Rata-rata converter audio saat ini memiliki noise floor sekitar – 115 dBFS.
    • · Memiliki fitur “Free Latency Monitoring”. Fitur ini bisa diibaratkan seperti mixer yang berada di sound card, sehingga audio dikeluarkan lagi sebelum di proses oleh multi track software. Keuntungan nya adalah latency ( keterlambatan ) yang sangat kecil, bahkan terkadang tidak ada sama sekali. Dalam zero latency monitoring, yang di dengar adalah signal sebelum diproses.
  4.  Microphone. Berfungsi sebagai transducer yaitu merubah gelombang suara di udara menjadi variasi voltase yang nanti nya akan dirubah menjadi data digital oleh converter.
  5. Speaker Monitor. Yang dimaksud disini adalah speaker yang flat dan dirancang khusus untuk kebutuhan mixing / mastering. Speaker flat ini berbeda dengan speaker rumahan, memiliki frequency response yang merata dari 30 Hz – 20 kHz. Dengan kata lain, speaker jenis ini jujur dalam me-reproduksi hasil mixing anda. Inilah yang diperlukan seorang Sound Engineer pada saat mixing. Yaitu mendapatkan gambaran akurat dari frequency berbagai instrument yang sedang di mixing. Apabila speaker yang anda gunakan untuk mixing tidak flat, maka telinga anda akan “tertipu” oleh speaker dan tidak dapat menentukan frequency dengan tepat

Dengan sistem DAW ini, anda dapat memiliki sebanyak mungkin Compresor, Reverb, atau plug in lain nya selama sistem anda sanggup. Bandingkan dengan di jaman analog yang dimana anda harus membeli banyak unit compressor, reverb, EQ, dan lain nya. Hal inilah yang menyebabkan semakin populer nya studio rekaman digital, dengan harga terjangkau dan kualitas yang professional. Kunci nya adalah: SDM yang handal dan berpengalaman.
Sistem DAW kualitas nya tergantung pada 3 hal yaitu:

  • Microphone dan kabel yang baik
  • Pre Amp dan Converter yang berkualitas
  • Computer yang kuat
Pre amp berfungsi untuk memperkuat dari microphone level menjadi line level sehingga signal dapat di “convert” menjadi digital. Proses pre amplification ini bisa memperkuat signal sebesar 400 x dari asli nya sehingga kualitas dari pre amp sangat mempengaruhi hasil rekaman.

Pada saat baru berkembang nya dunia digital recording, converter yang ada di pasaran hanya dapat menerima line level saja. Akan tetapi kini kebanyakan converter sudah menyertakan pre amp sehingga kini juga dapat menerima mic level dan instrument level. Walau begitu, banyak juga kita temui sistem digital yang mempergunakan mixer. Sistem semacam ini biasanya menggunakan converter dan pre amp yang terpisah.

Alasan beberapa orang mempergunakan pre amp terpisah adalah:

* Seringkali pemilik studio sudah memiliki pre amp dengan karakteristik yang disukai
* Converter hanya dapat menerima line level ( tidak memiliki pre amp yang digabung )
* Beberapa pre amp kelas atas kualitas nya memang lebih baik


Dasarnya adalah bagaimana mendapatkan signal suara yang terbaik ke dalam computer anda. Dalam hal ini ada pepatah yang sangat benar adanya yaitu “Rubbish In Rubbish Out”. Sebagaimana hebat nya mixing skill anda atau dibantu dengan alat processor terbaik juga tak akan menghasilkan hasil yang maksimal apabila signal awal nya tak berkualitas.


MH Studio Music & Recording
Read More